Kredit BCA Tembus Rp1.063 Triliun, Sektor Produktif Jadi Motor Utama

JAKARTA – PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatatkan pertumbuhan penyaluran kredit yang signifikan sepanjang kuartal III-2026. Hingga akhir September 2026, total kredit BCA tumbuh 12,6% secara tahunan (year-on-year) mencapai Rp1.063 triliun.

Peningkatan ini mencerminkan akselerasi aktivitas ekonomi nasional menjelang penutupan tahun. Wakil Presiden Direktur BCA, John Kosasih, menjelaskan bahwa lonjakan permintaan kredit didorong oleh siklus bisnis musiman (business season).

Bacaan Lainnya

“Pelaku usaha mulai melakukan persiapan sejak empat hingga lima bulan lebih awal untuk memenuhi lonjakan permintaan pasar saat Natal, Tahun Baru, hingga Lebaran,” ujar John dalam paparan kinerja BCA kuartal III-2026, sebagaimana dikutip dari Bloomberg Technoz (27/10).

Menurut John, para pelaku bisnis saat ini tengah fokus pada pengadaan barang, penambahan stok, serta peningkatan kapasitas produksi. Selain itu, kebutuhan modal kerja operasional harian juga meningkat seiring dengan padatnya aktivitas bisnis di penghujung tahun.

Kredit Produktif Mendominasi

Sektor kredit produktif menjadi tulang punggung pertumbuhan BCA dengan total penyaluran mencapai Rp831 triliun, atau naik 17,2% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan merata terlihat di berbagai segmen:

* Kredit Korporasi: Tumbuh 20,9% menjadi Rp528,1 triliun, didorong oleh sektor perkebunan, infrastruktur, transportasi, energi, serta teknologi digital.
* Kredit Komersial: Tumbuh 7,8% menjadi Rp154,1 triliun.
* Kredit UMKM: Tumbuh 15,4% menjadi Rp149,2 triliun, didorong oleh sektor perdagangan, logistik, jasa bisnis, serta industri makanan dan minuman.

Tren pertumbuhan ini sejalan dengan proyeksi Bank Indonesia yang memposisikan pembiayaan perbankan sebagai penggerak utama investasi dan konsumsi rumah tangga pada kuartal IV-2026.

Kualitas Aset Tetap Terjaga

Di tengah ekspansi kredit, BCA tetap menjaga kualitas aset dengan ketat. Rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) berada di level sehat sebesar 1,8%, dengan rasio loan at risk sebesar 4,6%.

Manajemen BCA kini merevisi proyeksi pertumbuhan kredit sepanjang 2026 ke kisaran 10%–12%, lebih tinggi dari target awal sebesar 8%–10%. Kendati permintaan kredit melonjak, BCA menegaskan bahwa penyaluran tersebut didasari oleh kebutuhan bisnis yang nyata dan terukur.

Ke depan, stabilitas akses pembiayaan dinilai akan menjadi kunci bagi pelaku usaha untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional yang kokoh dan merata.

Pos terkait