Rupiah Tertekan ke Level Rp18.105 per Dolar AS, BI Intensif Pantau Pasar

JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mencatatkan pelemahan pada awal perdagangan pekan ini, Senin (26/10/2026). Berdasarkan data Refinitiv pukul 10.04 WIB, mata uang Garuda terdepresiasi 0,36% ke level Rp18.105 per dolar AS.

Posisi ini menunjukkan pelemahan signifikan dibandingkan penutupan perdagangan pada Jumat (23/10/2026) yang berada di level Rp18.105 per dolar AS.

Bacaan Lainnya

Menanggapi dinamika tersebut, Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menegaskan bahwa bank sentral tetap aktif berada di pasar untuk memantau pergerakan nilai tukar. Menurutnya, fluktuasi mata uang domestik pada dasarnya dipengaruhi oleh mekanisme pasar, yakni hukum permintaan dan penawaran (supply and demand).

“Kita tetap ada di pasar. Ini tergantung supply and demand. Kami akan terus memantau pergerakannya,” ujar Destry di sela-sela acara Danantara TIIF 2026, Senin (26/10/2026).

Saat disinggung mengenai potensi perubahan strategi intervensi untuk meredam gejolak rupiah, Destry menyatakan belum ada perubahan kebijakan yang dilakukan. Ia menilai volatilitas yang terjadi saat ini masih dalam batas dinamika pasar yang wajar.

“Tidak ada perubahan (strategi). Ini volatilitas biasa, namun kami akan terus memonitor dan melihat akar penyebabnya,” tambahnya.

Terkait faktor spesifik yang memicu pelemahan rupiah pada hari ini, Destry belum memberikan perincian mendalam. Ia menyatakan akan melakukan peninjauan lebih lanjut terhadap data terkini setelah kembali ke kantor.

BI berkomitmen untuk terus menjaga stabilitas pasar keuangan di tengah ketidakpastian global. Meski demikian, hingga saat ini, bank sentral belum memberikan penjelasan tambahan mengenai langkah-langkah intervensi strategis ke depan untuk menahan laju pelemahan rupiah.

Pos terkait