JAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan bahwa asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berasal dari Kalimantan dan Sumatera telah bergerak menjauhi wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek), Banten, serta Jawa Barat.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa fenomena masuknya asap tersebut sempat terdeteksi oleh citra satelit pada Jumat (16/10/2026). Asap terpantau berada di atmosfer Jakarta selama kurang lebih 5 hingga 6 jam.
“Masuknya itu memang asap yang berada di ketinggian lebih dari 4 kilometer,” ujar Faisal di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (21/10/2026).
Faisal menegaskan, karena posisi asap berada di ketinggian di atas 4 kilometer, fenomena ini tidak terdeteksi atau dirasakan langsung oleh masyarakat di permukaan. BMKG pun terus melakukan pemantauan kualitas udara secara berkala, baik secara kualitatif maupun kuantitatif menggunakan peralatan monitoring di permukaan.
“Kami memantau tidak hanya secara kualitatif, tapi juga kuantitatif melalui peralatan monitoring kualitas udara kami yang ada di permukaan. Kami pastikan tidak ada indikasi asap tersebut kembali ke Ibu Kota,” tambahnya.
Meski asap karhutla telah menjauh, kualitas udara di Jakarta tetap menjadi perhatian. Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta Bidang Lingkungan Hidup, Chico Hakim, mengungkapkan bahwa sejumlah titik pemantauan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di Jakarta masih menunjukkan kategori sedang hingga tidak sehat.
Chico menjelaskan, parameter partikel halus PM2.5 menjadi perhatian utama. Menurutnya, kondisi kualitas udara Jakarta saat ini masih dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari emisi kendaraan bermotor, aktivitas industri, hingga dampak dari musim kemarau yang masih berlangsung.





