JAKARTA – Di tengah dinamika ekonomi global yang penuh tekanan, nilai tukar rupiah dilaporkan tetap stabil. Pemerintah menegaskan komitmennya untuk menjaga mata uang nasional dengan memperkuat berbagai sumber devisa serta melakukan perbaikan fundamental di sektor pasar modal.
Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Dradjad Hari Wibowo, menyatakan bahwa pemerintah akan menjaga stabilitas rupiah terhadap dolar AS dengan mengoptimalkan sektor-sektor penyumbang devisa, terutama pariwisata dan kontribusi dari pekerja migran Indonesia. Langkah ini dinilai krusial untuk memperkokoh posisi eksternal ekonomi nasional.
Dradjad menyoroti pentingnya melihat kondisi nilai tukar secara komprehensif, tidak hanya terpaku pada fluktuasi harian. Ia menegaskan bahwa prediksi kelam mengenai pelemahan tajam rupiah, yang sempat ramai diperbincangkan—seperti proyeksi tembus Rp20.000 per dolar AS pada Oktober 2025 atau Rp25.000 pada semester pertama 2026—sejauh ini tidak terbukti.
“Penilaian terhadap risiko nilai tukar perlu didasarkan pada perkembangan fundamental dan berbagai faktor yang memengaruhinya,” ujar Dradjad dalam forum Business Talk Kompas TV.
Reformasi Pasar Modal
Selain menjaga nilai tukar, pemerintah juga tengah menempuh langkah perbaikan menyeluruh pada pasar modal. Dradjad mengungkapkan bahwa Presiden telah menginstruksikan perbaikan fundamental guna meningkatkan transparansi, tata kelola, dan penegakan hukum di sektor tersebut demi menjaga kepercayaan investor.
“Presiden dalam rapat kabinet paripurna menegaskan kita harus melakukan perbaikan-perbaikan yang fundamental atas pasar modal kita,” tegasnya.
Terkait kekhawatiran pelaku pasar, Dradjad mengimbau masyarakat dan investor untuk tetap tenang dan tidak bergantung pada satu lembaga penilai saja. Ia mencatat bahwa terdapat penyedia indeks lain yang tidak mengubah status Indonesia, sehingga kepanikan pasar dapat diredam jika penilaian dilakukan secara rasional dan berbasis data lengkap.
“Kita juga punya index provider lain yang tidak menurunkan status Indonesia. Kalau berpikir rasional dan tidak panik, tentu pasar tidak akan terlalu goyang,” pungkasnya.
Pemerintah menekankan bahwa sinergi antara kebijakan yang cermat dan ketenangan publik menjadi kunci utama dalam menghadapi tekanan ekonomi global serta menjaga stabilitas nasional ke depan.






