Harga Emas Tembus US$4.000 Usai Kemenangan Demokrat di Pemilu Paruh Baya AS

Harga emas dunia mencatatkan lonjakan signifikan lebih dari 3% pada perdagangan Rabu (4/11/2026), berhasil menembus level psikologis US$4.000 per troy ons. Penguatan ini dipicu oleh pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) pasca kemenangan telak Partai Demokrat dalam pemilihan umum paruh baya (midterm election).

Berdasarkan data Refinitiv, harga emas ditutup di level US$4.059,74 per troy ons, menguat 3,4%. Angka ini membawa emas kembali ke zona US$4.000, setelah sempat tertekan ke posisi US$3.869,85 pada 30 Oktober lalu—level terendah sejak Oktober 2025. Tren positif ini berlanjut pada Kamis (5/11/2026) pukul 06.46 WIB, di mana harga emas terpantau kembali menguat 0,73% menjadi US$4.062,69 per troy ons.

Bacaan Lainnya

Kemenangan Partai Demokrat dalam merebut kendali Senat dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) AS, serta penguasaan wilayah yang sebelumnya menjadi basis Partai Republik, dinilai sebagai pukulan politik bagi Presiden Donald Trump. Dampak langsung dari pergeseran peta politik ini adalah pelemahan indeks dolar AS ke level terendah dalam lebih dari sebulan, yakni di posisi 101,5.

Secara tradisional, pelemahan dolar AS meningkatkan daya tarik emas karena logam mulia yang dihargai dalam mata uang tersebut menjadi lebih terjangkau bagi investor global.

Analis American Gold Exchange, Jim Wyckoff, menilai bahwa emas juga mendapatkan sentimen positif dari kekhawatiran akan potensi kebuntuan politik (political gridlock) di Kongres AS. Kondisi tersebut diprediksi dapat menghambat agenda legislasi dan menekan pertumbuhan ekonomi, yang pada akhirnya memberi ruang bagi bank sentral AS, The Fed, untuk menerapkan kebijakan moneter yang lebih longgar.

Namun, pelaku pasar tetap mewaspadai tekanan inflasi yang masih membayangi. Harga minyak Brent dilaporkan bertahan di atas US$100 per barel, seiring ketidakpastian langkah Washington dalam konflik AS-Israel melawan Iran.

Selain itu, ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed pada Desember mendatang masih cukup tinggi, yakni mencapai 83% berdasarkan perangkat CME FedWatch. Kenaikan suku bunga acuan secara historis cenderung menekan harga emas karena meningkatkan biaya peluang (opportunity cost) bagi investor yang memegang aset tanpa imbal hasil tetap.

Pos terkait