JAKARTA – Rencana Morgan Stanley Capital International (MSCI) untuk menurunkan status pasar modal Indonesia dari Emerging Market (EM) menjadi Standalone Market tengah menjadi sorotan pelaku pasar. Langkah reklasifikasi ini dinilai berisiko memicu arus keluar (outflow) dana asing senilai US$ 8 miliar hingga US$ 11 miliar dari pasar saham domestik.
Analis Mirae Asset Sekuritas, Wilbert Arifin, menjelaskan bahwa potensi arus keluar tersebut terdiri dari dua kategori utama. Sebanyak US$ 3 miliar merupakan dana pasif yang akan keluar secara otomatis mengikuti perubahan indeks, sementara US$ 5 miliar hingga US$ 8 miliar sisanya berasal dari dana aktif.
“Jika menggabungkan kedua metode tersebut, kami memperkirakan terdapat dana asing sebesar US$ 8-11 miliar yang berisiko keluar. Angka dana aktif merupakan batas atas, karena manajer investasi memiliki diskresi untuk tetap mempertahankan saham Indonesia jika masih dinilai prospektif,” ujar Wilbert, Kamis (5/11/2026).
Tekanan pada Saham Blue Chip
Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per Oktober 2026, tekanan jual diprediksi tidak akan merata. Saham-saham kategori Standard dalam indeks MSCI diprediksi menanggung beban terbesar, yakni mencapai US$ 7,8 miliar atau sekitar 82% dari total estimasi outflow.
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi emiten yang paling terdampak dengan potensi tekanan jual mencapai US$ 2,3 miliar atau sekitar Rp 41,8 triliun. Posisi selanjutnya diikuti oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) dengan estimasi US$ 1,6 miliar (Rp 28,9 triliun) dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) sebesar US$ 1,3 miliar (Rp 23,6 triliun).
Selain perbankan, emiten lain dengan tekanan jual tinggi meliputi PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), PT Astra International Tbk (ASII), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), serta PT United Tractors Tbk (UNTR).
Likuiditas Pasar dan Proyeksi
Dari sisi durasi penyerapan tekanan jual, saham-saham kategori Standard diperkirakan membutuhkan waktu rata-rata 40 hari perdagangan. Sebagai gambaran, BBCA diproyeksikan memerlukan 39 hari untuk menyerap tekanan jual, sementara ASII membutuhkan waktu hingga 54 hari perdagangan.
Sementara itu, pada kategori Small Cap, potensi arus keluar mencapai US$ 1,7 miliar atau sekitar Rp 30,85 triliun, dengan emiten seperti PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) dan PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) menghadapi tekanan signifikan.
Wilbert menambahkan, skenario perpindahan ke kategori Frontier Market sekalipun hanya akan memberikan tambahan dana masuk maksimal US$ 1 miliar. Dengan demikian, arus keluar bersih tetap diproyeksikan berada di kisaran US$ 7 miliar hingga US$ 10 miliar.
“Keputusan akhir manajer investasi aktif akan bergantung pada penilaian mereka terhadap nilai investasi di pasar Indonesia setelah tidak lagi masuk dalam indeks acuan. Argentina menjadi contoh di mana investor tetap mempertahankan saham meski negara tersebut telah berstatus Standalone sejak 2021,” pungkasnya.





