BOGOR (BJN) - Kujang pusaka ini dikenal masyarakat sunda pada masa kerajaan Padjajaran atau sekitar abad ke-14, karena fungsinya sebagai alat pertanian.
Oleh karena itu warisan ini tak dapat dipisahkan dari masyarakat sunda, khususnya pada masa pemerintahan Prabu Siliwangi.
Sebagian besar masyarakat di wilayah Jawa Barat juga mengenal benda ini sebagai peninggalan Prabu Siliwangi.
Namun ketika ada penjajah asing, senjata ini digunakan untuk melawan dan mengusir penjajah, pada zaman dahulu bangsa Indonesia khususnya suku sunda tidak memiliki senjata yang mumpuni, untuk melawan penjajah yang merusak masyarakat.
Karena itu, Kujang ini dijadikan simbol pusaka bagi masyarakat sunda, konon sampai saat ini senjata tradisional Kujang masih dapat digunakan sebagai alat bercocok tanam oleh masyarakat Baduy, Banten dan Pancer Pengawinan Sukabumi, Jawa Barat.
Hal itu terekam dalam keterangan naskah kuno Sanghyang Siksa Ng Karesian (1518 M). Namun, ada juga tradisi lisan yang berkembang di beberapa daerah. Ada banyak teori tentang asal usul kata Kujang, salah satunya adalah kata Kujang berasal dari bahasa Sunda kuno yaitu ‘kudi’ dan ‘hyang’.






