BOGOR (BJN) -   Nyukcruk galur mapay paranti, mulasara budaya sangkan teu sirna. Semangat inilah yang menjadi denyut nadi Persatuan Nyukcruk Galur Karuhun Bogor (PNGKB), sebuah organisasi yang lahir dari panggilan jiwa untuk menjaga warisan leluhur di tengah derasnya arus zaman.


​Perjalanan PNGKB bukanlah sekadar narasi organisasi biasa. Ini adalah kisah tentang keteguhan Abah Herman, sang pelopor, yang didampingi dengan setia oleh Ambu Amsah dalam merajut kembali silaturahmi keturunan (trah) dan pecinta sejarah Sunda.

Langkah awal dimulai pada tahun 2018. Saat itu, Abah Herman menginisiasi sebuah grup diskusi digital bernama WAG Karuhun. Namun, sebuah pengalaman spiritual yang mendalam mengubah segalanya. Melalui sebuah mimpi, Abah Herman bertemu dengan sosok pendekar misterius yang menitipkan pesan mendalam tentang pentingnya "Nyukcruk Karuhun" (menelusuri jejak leluhur).


​Seketika, nama kelompok tersebut bertransformasi menjadi Nyukcruk Galur Karuhun. Tak disangka, getaran semangat ini meluas dengan cepat, menarik minat masyarakat dari dalam hingga luar wilayah Bogor yang memiliki kerinduan serupa terhadap akar budaya mereka.

iklan sidebar-1

​Memasuki September 2019, momentum besar tercipta di wilayah bersejarah Sindang Barang Parakan, Ciomas. Bertempat di kediaman Niko Yj (yang kemudian didaulat sebagai Penasihat Umum), kepengurusan inti (KSB) resmi dibentuk.

​Menariknya, Abah Herman menunjukkan sikap asor (rendah hati) yang luar biasa. Alih-alih langsung menduduki kursi pimpinan, beliau membuka ruang musyawarah dan voting untuk menentukan pemimpin yang paling layak. Di sinilah nama Paguyuban Nyukcruk Galur Karuhun Bogor resmi berkibar.