BOGOR (BJN) - Kebun Raya Bogor tak sekadar hijau pada Kamis (16/4/2026). Sekitar 1.000 pegiat budaya dari 82 organisasi Kasundaan se-Bogor Raya tumpah ruah dalam gelaran _Riung Mungpulung_ akbar. Balutan Halal Bihalal Idulfitri 1447 H itu dirangkai ziarah budaya ke Maqom Ibu Ratu Galuh sebagai penegas jati diri urang Sunda.

Mengusung tema _“Hayu Urang Guyub Sauyunan, Saiiket, Saigel Jeung Dapihanean Mapag Padjajaran Anyar”_, kegiatan ini jadi bukti melebur-nya ego 82 organisasi—mulai dari paguyuban, sanggar, LSM, yayasan, hingga ormas. Semuanya satu suara: menegakkan marwah Kasundaan di Bogor Raya.
Acara dibuka khidmat dengan doa bersama oleh K.H. Ahmad Taviv Budiman, pembacaan ayat suci Al-Qur’an, lagu Indonesia Raya, dan _Rajah Bubuka_ oleh Ki Odoy diiringi alunan kacapi suling.

Ketua Panitia, Mela, menegaskan kegiatan ini lahir dari gotong royong. “Kita gagas dengan semangat _silih asih, silih asah, dan silih asuh_. Nilai warisan inilah yang mempersatukan kita semua,” ujarnya.
*Lahirkan Forum Budaya, Wacanakan Festival Rutin*
Momentum _Riung Mungpulung_ tak berhenti di silaturahmi. Momen penting terjadi saat Deny J Wikartadirja membacakan deklarasi pembentukan *Forum Kebudayaan Kota Bogor*. Deklarasi itu disaksikan langsung Kepala Disparbud Kota Bogor, Drs. Firdaus, dan DENPOM Kota Bogor, Lettu CPM Dadan. Keduanya menyambut baik sebagai langkah strategis memperkuat ekosistem kebudayaan daerah.

Tokoh Kasundaan Gugum Gumelar menyebut acara ini sebagai ajang melebur ego demi persatuan. Ia juga buka rencana kolaborasi dengan Pemkot: menggelar festival budaya rutin di Kebun Raya Bogor serta mendorong penggunaan atribut Kasundaan bagi pengunjung di hari tertentu. “Untuk penguatan identitas,” tegas Gugum.
Rangkaian seremoni ditutup meriah oleh penampilan Bogor Wanita Berkebaya dan KPJ Merdeka Bogor. Setelahnya, seluruh peserta bergerak ziarah ke Maqom Ibu Ratu Galuh hingga jelang Magrib. Ziarah ini jadi simbol penghormatan pada karuhun sekaligus pengingat bahwa _Mapag Padjajaran Anyar_ harus berpijak pada akar sejarah Sunda yang diwariskan. (Novel R/Niko)



